Wabah : Menguji Resiliensi Diri

Wabah : Menguji Resiliensi Diri

Athia Tamyizatun Nisa, M.Pd*

Sudah hari ke-31, sejak presiden berdiri di podium kenegaraannya lalu menghimbau untuk “kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah” dan hal-hal lainnya yang dilakukan di rumah. Ternyata sudah satu bulan warga Indonesia mengkondisikan diri untuk #StayAtHome walau godaan keluar rumah untuk sekedar melepas penat sudah mulai hilir mudik di pikiran. Bagi kalian yang sejauh ini berhasil mengurangi aktivitas di luar rumah, selamat Anda mematuhi himbauan pemimpin. Tapi bagaimana kabar kondisi psikis kita?

Beberapa orang akhirnya mulai menemukan kejenuhan untuk bertahan di rumah. Di sisi lain dampak #StayAtHome masal mulai muncul seperti menurunnya pelanggan hingga PHK karyawan. Sepinya penumpang ojol hingga pengemudi ojol mengalami penurunan penghasilan. Perjuangan mengikuti belajar daring, bahkan ketakutan berlebih menghadapi covid-19. Nampaknya orang-orang mulai menghadapi kondisi sulit namun dipaksa untuk bertahan. Mau tidak mau harus mengeluarkan daya upaya agar kehidupan tetap berjalan dengan semestinya. Dalam kondisi ini individu harus memunculkan sebuah kemampuan yang dinamakan resiliensi. 

Resiliensi bermakna ketangguhan individu dalam menghadapi masa sulit. Bukan menjadi sakti mandraguna dengan tameng baja. Hanya saja mampu memulihkan kondisi psikologisnya lalu bergerak bangkit dari keterpurukan. Sehingga tidak menutup kemungkinan individu akan merasakan emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, bahkan cemas (Hendriani, 2018).

Prinsipnya manusia memiliki kemampuan untuk dapat bertahan dalam kondisi sulit. Naluri untuk hidup mendorong mereka “dipaksa” kreatif menemukan solusi. Di sisi lain kehidupan manusia senantiasa diwarnai dengan adversity atau kondisi yang tidak menyenangkan (Dhesmita, 2009). Namun kemampuan individu dalam melakukan resiliensi berbeda-beda. Jika suatu kesulitan berhasil direspon secara positif maka kemampuan resiliensinya baik, sebaliknya jika memunculkan respon negatif maka kemampuan resiliensinya buruk. 

Terdapat empat kemungkinan respon individu ketika berhadapan dengan kondisi tidak menyenangkan (Carver, 1998). Succumbing yaitu kondisi menyerah dengan keadaan. Survival yaitu bertahan namun terganggu fungsi psikologis dan emosi. Recovery yaitu pemulihan di mana individu telah pulih kembali secara psikologis dan emosi serta mampu beradaptasi. Pada respon ini sebenarnya individu sudah dapat dikatakan memiliki kemampuan resiliensi yang baik, namun rupanya ada thriving yaitu berkembang pesat di mana individu tidak hanya dapat kembali ke tingkat fungsi sebelumnya tetapi juga melampauinya. 

Mengutip penelitian dari Werner dalam Hendriani (2018) yang melakukan penelitian pada anak-anak yang hidup dengan orang tua alkoholik dan mengalami gangguan mental serta tidak memiliki pekerjaan, menemukan bahwa 2/3 populasi anak-anak menunjukkan prilaku yang destruktif setelah usia 10 tahun. Menariknya terdapat sekelompok kecil anak-anak yang tidak memiliki prilaku destruktif yang kemudian diberi julukan sebagai anak-anak resilien.

Anak-anak resilien menujukkan kemampuannya untuk dapat berperilaku baik walau tinggal di lingkungan yang buruk. Dari paparan tersebut bahwa tidak semua individu memiliki kemampuan resiliensi yang baik. Bahkan dapat dikatakan individu resilien menjadi populasi minoritas. Kebanyakan tumbang menghadapi tekanan apalagi saai ini dihadapkan ketidakpastian sampai kapan harus #StayAtHome

Kita bisa belajar dari kisah nabi Yunus yang menghadapi masa sulit di mana Allah uji dalam 3 kegelapan yaitu kegelapan perut ikan paus, kegelapan lautan, dan kegelapan malam. Mari kita refleksikan, sering kali kita mengalami ketakutan saat tiba-tiba mati lampu. Suasana menjadi gelap, tidak bisa melihat apa-apa, bahkan imajinasi dapat berkembang liar yang malah memperburuk keadaan. Namun kegelapan yang dialami nabi Yunus memiliki tiga lapis, sehingga tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kegelapan karena mati lampu. Dapat dibayangkan bagaimana beliau harus bertahan dalam kondisi tersebut. Kabar gembiranya beliau akhirnya merenungi kesalahan dan berhasil muhasabah diri sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. Maka berhasilah nabi Yunus menggunakan kemampuan resiliensinya.

Lalu bagaimana caranya tahu sebaik mana kemampuan resiliensi kita? Waktu yang akan menjawab, saat wabah ini selesai. Himbauan #StayAtHome dicabut dan orang-orang mulai keluar rumah dengan suka cita. Kita akan bertemu dengan banyak orang lalu melihat dan membandingkan diri kita dengan perubahan apa yang terjadi pada orang lain. Jangan sampai kita menyesali diri kita yang malah mengalami degradasi atau menjadi pribadi yang stagnan sama seperti saat wabah belum menyerang. Jika demikian yang terjadi maka jawabannya adalah kemampuan resiliensi kita rendah. Menjadi tangguh, mampu beradaptasi, dan mengembangkan diri secara positif adalah ciri keberhasilan kita menjadi individu resilien. 

Selepas ini semoga kita tergolong dalam individu resilien. Menghadapi ujian wabah covid-19 dengan kondisi psikologis yang sehat. Mari saling menjadi support system yang baik bagi semua orang. Bukankah social distancing sedang direvisi menjadi physical distancing? Kita hanya jauh secara fisik bukan jauh secara sosial. Sebab kualitas resiliensi individu salah satunya ditunjang dengan seberapa besar dukungan sosial yang didapat (Groberg dalam Desmita, 2009).

*Dosen BKI IAIN Surakarta

Referensi:

Carver, C. (1998). Resilience and Thriving: Issues, Models, and Linkages. Journal of Social Issues, 54(2): 245-266

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya

Hendriani, W. (2018). Resiliensi Psikologis Suatu Pengantar. Jakarta: Prenada Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *