Mental yang Sehat dalam Menyikapi Ghosting

Mental yang Sehat dalam Menyikapi Ghosting

Vera Imanti, M.Psi., Psikolog*

“Aku ga ngerti deh salah aku apa. Tiba-tiba dia ngilang gitu aja, ga ada kabar. Ga bales chat aku juga. Padahal dia masih sering lho ke kampus, tapi kok terkesannya menghindar gitu dari aku. Kata teman-teman pun dia masih eksis di medsos kok, dan masih aktif komunikasi sama yang lain. Tapi dia udah ga mau komunikasi sama aku, ku tanya apa salah aku pun dia tidak menjawab. Aku ngerasa ga nyaman lho sama situasi ini, stress aku tuuuh… Aku jadi ga percaya diri gini, dan aku merasa bersalah sama diriku sendiri”.

Ada yang pernah mengalami situasi seperti hal di atas? Kondisi di mana seseorang memutuskan hubungan ataupun komunikasi tanpa sebab yang jelas, dan hilang begitu saja. Situasi ini dapat saja terjadi dalam kondisi interaksi antar teman, antar pasangan, hubungan terkait pekerjaan, maupun situasi-situasi interaksi lainnya. 

Tentu saja kondisi ini sangat tidak nyaman bagi ghostee (korban), dan tidak bisa dianggap hal yang sederhana. Kondisi psikologis yang berbeda akan membentuk respon yang berbeda bagi setiap individu. Respon yang berbeda inilah terkadang mengarah ke hal-hal negatif. Kasus tersebut di atas dinamakan ghosting.

Ghosting merupakan salah satu strategi untuk menghentikan atau memutuskan suatu hubungan serta memutuskan komunikasi, dan hal tersebut dilakukan secara tiba-tiba (LeFebvre et al., 2019; Navarro et al., 2020). Namun strategi ini justru akan menimbulkan ketidaknyamanan dari salah satu pihak. Umumnya suatu hubungan yang baik, akan dimulai dengan baik disertai tanggung jawab dan emosi positif dari kedua belah pihak. 

Namun, pemutusan hubungan dengan salah satu pihak tanpa komunikasi yang baik, dapat memberikan kesan kurangnya sikap tanggung jawab terhadap suatu hubungan. Ghosting bukanlah kondisi yang terdapat kesulitan sarana untuk melakukan komunikasi, bukan juga kondisi di mana sudah mengetahui alasan untuk mengakhiri hubungan, dan salah satunya tidak lagi berkomunikasi. 

Ghostee merupakan orang yang ditinggalkan begitu saja (korban). Situasi ghosting ini dapat merugikan ghostee secara psikis. Bahkan dapat dikatakan bahwa ghosting ini merupakan suatu tindakan kekerasan psikologis. Hal ini dikarenakan kondisi ghostee dapat menimbulkan kecemasan, frustasi, tidak percaya diri, merasa bersalah, merusak citra diri, memicu perasaan dikucilkan, sakit sosial, serta kesepian (Pronk et al., 2019; Navarro et al., 2020). Perasaan yang tidak pasti ini jika berlarut terlalu lama, maka akan menimbulkan trauma. Di mana akan menjadi kesulitan dalam berinteraksi, serta kesulitan menjalin hubungan yang baru.

Meskipun demikian, kondisi yang tidak menyenangkan ini bukan berarti tidak dapat diatasi dengan baik. Kondisi psikologis seseorang berbeda-beda dalam merespon suatu kondisi atau permasalahan. Ada beberapa cara agar dapat move on dari ghosting di antaranya kesadaran diri bahwa mengalami ghosting, selanjutnya menerima kondisi yang tidak nyaman ini, kemudian memaafkan diri sendiri serta tidak menyalahkan diri sendiri. 

Pada beberapa kasus, tidak perlu lagi untuk mencari tahu apa penyebab dan alasan ghoster. Bersabar dan berfikir positif serta tidak menyalahkan diri sendiri dapat menghindarkan diri dari perasaan bersalah (self blaming), juga menghindarkan diri dari rasa trauma, ataupun perasaan dikucilkan. Meski sulit, tidak ada salahnya untuk memulai saran di atas.

Bagi muslim, segala permasalahan dapat diatasi berdasarkan Qur’an dan hadits, di mana keduanya merupakan pondasi dalam menjalani proses kehidupannya. “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya serta untuk menjadi cahaya yang menerangi.” (Q.S Al-Ahzab: 45-46).Islam pun telah menyediakan solusi ketika seorang muslim menjadi ghostee.

Ikhlas menerima kondisi ghosting tersebut. Mengatakan dalam hati, menyadarkan kondisi diri bahwa memang benar mengalami ghosting. Kemudian selanjutnya menerima kondisi ini secara ikhlas. Selalu berprasangka baik pada Allah SWT. Lebih baik tidak banyak mengeluh dan berandai-andai. Yakin terhadap ketetapan-Nya, dan yakin terhadap takdir-Nya.

Kita juga harus teguh dalam pendirian. Membalas perbuatan orang lain dengan do’a yang baik serta perbuatan baik. Jika orang lain berbuat baik, maka balaslah dengan perbuatan baik. Jika orang lain berbuat buruk, maka tetaplah teguh dalam pendirian untuk menjadi pribadi yang baik. Menjadi orang yang baik sangatlah dianjurkan dalam agama kita sendiri, dan jangan sampai memutuskan tali silaturahmi.

Islam sendiri menganjurkan untuk terus menjalin silaturahmi, seperti dalam pepatah bahasa Arab “Tashoofahu yadzhabul ghillu” yang artinya “Silaturahmi menjauhkan kita dari permusuhan”. Silaturahmi akan menghindarkan diri kita agar tidak menjadi ghoster. Komunikasi yang baik, serta keterampilan memecahkan masalah secara perlahan harus kita pelajari, sehingga tidak ada lagi situasi ghosting yang akan ditemui.

*Dosen BKI IAIN Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *